Ini Alasan Djanur Batasi Pemain Persib Bersentuhan Dengan Media

Ini Alasan Djanur Batasi Pemain Persib Bersentuhan Dengan Media

Bandung - Pelatih Persib Bandung, Djadjang Nurdjaman mulai mengeluhkan intensitasnya . Pasalnya, rutinitas tersebut berjalan hampir setiap hari dan hasilnya kerap dijadikan bahan kritikan oleh pihak-pihak tak bertanggung jawab melalui sosial media.

“Saya ingin klarifikasi, kemarin sebenarnya saya tidak mogok bicara karena habit wawancara tiap hari pagi dan sore, seperti minum obat. Sampai-sampai kemarin [Michael] Essien kaget begitu tahu ‘coach wawancara tiap hari?’ Karena di sana [Eropa] enggak ada seperti ini,” keluh pelatih yang akrab disapa Djanur itu.

Aksi mogok bicara Djanur, terjadi setelah tim sampai di Kota Bandung sepulang dari lawatan partai tandang menghadapi Semen Padang, Minggu (14/5). Tanpa adanya penjelasan yang jelas, saat itu Djanur menolak bicara kepada awak media terkait perkembangan tim.

Namun belakangan baru terungkap, pelatih berusia 59 tahun itu dihujani kritikan pedas dari suporter melalui media sosial. Kritikan tersebut dilontarkan setelah permainan Persib dalam beberapa laga belakangan tidak menunjukkan karakter skuat Maung Bandung yang selalu tampil menyerang dan bermain menghibur.

Djanur meminta maaf kepada Bobotoh, dia sendiri juga mendapat umpatan, pelatih Persib tidak mengerti mengapa mereka bisa tidak respek. Kadang para pemain juga digiring pada pemberitaan tersebut.

Dan Beberapa pemain juga bungkam saat ditanyai hal tersebut, Djanur sendiri mengaku bahwa pihaknya memang membatasi para pemain untuk menyapaikan hal sesuatu kepada awak media.

Bahkan Michael Essien sempat menutup proses saat di wawancari oleh media di beberapa waktu lalu. Djanur sendiri tidak melarang pemain saya untuk berwawancara kepada media, namun ia hanya membatasi pembicaraan saat di tanya media.

“Saya dapat izin dari media officer, saya tidak usah atau kalau saya enggak siap untuk diwawancarai, tolong dimaklumi. Apakah akan dijadwal, enggak tahu lah bagaimana mood saya saja nanti,” tambahnya.

“Kalau saya tidak ngomong tiap hari mohon dimaklumi, tapi bukan berarti saya mogok bicara. Buktinya saya hadir di konferensi pers, wawancara harian boleh saja kan (menolak diwawancara) karena tidak menjadi sebuah kewajiban,” tutupnya.