Beritaboladunia.net - Sylvano Comvalius merasa kebingunan tentang pengelolaan kompetisi sepak bola di Indonesia.
Pihak yang dimaksud Comvalius tak lain PT Liga Indonesia Baru selaku operator liga dan PSSI selaku induk organisasi sepak bola di Indonesia.
Comvalius menilai operator tak konsisten selama menyelenggarakan Liga 1. Paling mencolok adalah penerapan regulasi yang kerap berubah.
“Saya tidak tahu harus berbuat apa lagi. Saat ini saya sangat lelah memikirkan apa yang terjadi saat ini (Liga I Indonesia),” kata Comvalius kepada Tribun Bali.
“Tidak tahu apa yang terjadi di sini. Mulai dari perubahan aturan Under 23. Memulai putaran kedua aturan itu dihapus kembali. Dan (mereka) kembali membuat aturan baru terkait marquee player. Setiap saat aturan berubah,” tegas Comvalius.
Ia mengatakan bahwa ada permainan ketika Bali United lawan Bhayangkara FC beberapa waktu lalu, baik yang berlangsung di kandang dan tandang.
“Saat lawan Bhayangkara ada empat pemain penting Bali United harus memperkuat timnas Indonesia. Kami lelah dengan regulasi yang berubah setiap saat,” ia menambahkan.
Begitu mendengar keputusan Komisi Displin PSSI yang memenangkan Bhayangkara FC atas Mitra Kukar, Comvalius telah menyesalkan keputusan itu.
Komdis melaluli surat no 112/L1/SK/KD-PSSI/X/2017 tanggal 5 November 2017 menyatakan Bhayangkara FC menang atas Mitra Kukar dengan skor 3-0.
Pertandingan tersebut awalnya berakhir imbang 1-1.
Namun, Mitra Kukar dinilai melanggar karena memainkan Mohamed Sissoko saat melawan Bhayangkara FC.
Gelandang asal Mali tersebut seharusnya tidak boleh bermain karena Sissoko mendapatkan kartu merah saat melawan Borneo FC dalam pekan ke-31 Liga 1 2017 di Stadion Aji Imbut, Tenggarong, Kalimantan Timur, Senin (23/10/2017).
Keputusan itu berdasar dari putusan Komdis dalam surat no 112/L1/SK/KD-PSSI/X/2017 tanggal 28 Oktober 2017.
“Mohamed Sissoko didenda 10 Juta Rupiah dan sanksi larangan bermain sebanyak 2 kali di pertandingan (lawan Persib dan Bhayangkara FC),” tulis Komdis PSSI.






