Beritaboladunia.net - Referendum Catalonia telah direspons dengan kekerasan oleh pemerintah Spanyol, semakin membuat memanasnya masalah ini.
Sejak lama, wilayah Catalonia merasa jika mareka bukan bagian dari Spanyol. Suara-suara untuk merdeka sudah bermuncul, bahkan kampanye merdeka pun selalu mewarnai laga Barcelona. Klub sepak bola Barcelona seolah yang menjadi simbol aspirasi Catalonia.
Apalagi, motto klub ini mengesankan hal itu, yakni “Més que un club” yang artinya Barcelona bukan sekadar klub. Tepat pada tanggal 1 Oktober 2017 lalu, Catalonia menggelar referendum.
Meski mereka dianggap ilegal oleh pemerintah Spanyol, tapi referendum tetap berjalan dengan 2.300 kotak suara. Namun, pemerintah Spanyol sudah mengirim polisi dalam jumlah besar ke Catalonia demi mencegah referendum.
Sebanyak 319 kotak suara sudah ditutup hingga menimbulkan protes besar. Polisi lalu menjaga dengan pentungan dan peluru karet, hingga ratusan orang terluka.
Polisi Catlonia pun berada di bawah perintah polisi dari Madrid dan harusnya melakukan instruksi yang sama. Tak jarang sekali banyak polisi Catalonia yang menangis, karena mereka harus bentrok dengan warganya sendiri (hal yang tak mereka inginkan).
Serangkaian kekerasan itu, menurut analis BBC di Barcelona, Tom Burridge, malah sudah membuat teriakan merdeka di Catalonia semakin membahana.
Barcelona FC sebagai klub sepak bola juga sudah merespons kekerasan itu dan sempat meminta agar laga lawan Las Palmas, Minggu (1/10/2017) ditunda. Namun, ternyata La Liga menolaknya dan mengancam bahwa mereka akan memberi sanksi jika laga itu tak dilaksanakan.
Barcelona akhirnya malah bermain tanpa penonton sebagai bentuk protes mereka. Meski menang 3-0, namun mereka tampak sedih.
Bahkan, defender Gerard Pique, sampai menangis karena aksi kekerasan tersebut di Catalonia.






